Maret 27, 2013
0
Setelah Rasullullah hijrah ke madinah, keadaan belum kondusif seutuhnya. Orang-orang Quraisy terus melancarkan tekanan-tekanan kepada muslim yang berada di madinah, dan menjalin hubungan dengan para munafikun untuk menekan kedudukan Rasullullah dan orang-orang muslim di Madinah.
Dalam kondisi yang rawan seperti itu, Allah menurunkan ayat yang membolehkan orang-orang musim untuk berperang (surat al-Hajj 39), yang dalam hal ini diartikan menguasai jalur perdagangan Quraisy dari Mekah menuju Syam. Hal inilah yang melatari terjadinya perang badar.
Ketika itu kafilah dagang pimpinan Abu Sufyan pulang dari Syam dengan membawa harta perdagangan yang berlimpah, hal ini merupakan kesempatan emas bagi kaum muslimin untuk melancarkan pukulan telak kepada Quraisy di bidang politik, militer, maupun ekonomi.
Setelah mendapat informasi yang cukup mengenai keadaan kafilah dagang Quraisy tersebut, Rasullah segera menghimpun pasukan untuk melakukan pencegatan. Pasukan yang berkumpul sekitar 300 orang, dan dipimpin oleh Rasulullah sendiri. Pasukanpun bergerak menuju badar.
Abu sufyan yang tahu jalan menuju makkah sangat rawan, terus mencari-cari informasi, hingga ia pun akhirnya mengetahui bahwa Rasulullah beserta sahabatnya telah pergi untuk mencegat kalifah dagangnya. Seketika itu, Abu sufyan langsung mengirim orang ke Makkah untuk memberitahukan keadaan sekaligus meminta perlindungan dan bala bantuan. Makkah pun bersiap-siap menyambut peperangan, dan terkumpulah 1300 pasukan dengan komando tertinggi berada di tangan Abu Jahal.
Pasukanpun bergerak menuju badar
Akan tetapi, dengan pengumpulan informasi yang akurat, serta tindakan yang cermat, abu sufyan dapat menghindari hadangan Rasulullah dan para sahabatnya. Dan segera mengirim surat kepada pasukan Quraisy. Mendengar kabar tersebut, pasukan Quraisy pun menjadi bimbang, diantara ingin meneruskan peperangan atau tidak. Ditengah situasi tersebut, Abu Jahl membakar semangat pasukannya, dengan sombong ia berkata “Demi Allah, kita tidak akan kembali kecuali sesudah tiba di badr. Kita akan berada di sana selama tiga hari sambil menyembelih hewan, amkan besar, menegak arak dan para buiduanita menari untuk kita, biar semua bangsa arab mendengar apa yang kita lakukan, dan perjalanan kita, sehingga mereka senantiasa gentar menghadapi kita”
Berbeda dengan keadaan Rasulullah dan pra sahabatnya, setelah mendengar lolosnya kafilah dagang abu sufyan, beliau justru bersiap-siap berperang dengan kekuatan penuh, karena, membiarkan posisi musuh begitu dekat dengan madinah akan menguatkan posisi meliter mereka, menebarkan pengaruh politiknya, serta membuat lemah barisan pasukan muslim. Beliau langsung memimpin majelis permusyawaratan perang, melakukan kegiatan mata-mata dan meningkatkan moral pasukan muslim.

Peperangan dimulai dengan adu tanding antara tiga orang sahabat berhadapan dengan, tiga orang pembesar Quraisy, ketiganya dapat dikalahkan.
Lalu terjadilah perang besar pertama dalam sejarah islam, diperang ini banyak sekali terdapat pesona-pesona iman, ibrah yang dapat diambil dari keteguhan rasulullah dan para sahabatnya. Singkat cerita menanglah pasukan muslim dalam peperangan ini, dan membuat kalimat Allah tinggi sedangkan kalimat orang-orang kafir itu rendah…

0 comments:

Posting Komentar