Setelah
Rasullullah hijrah ke madinah, keadaan belum kondusif seutuhnya.
Orang-orang Quraisy terus melancarkan tekanan-tekanan kepada muslim yang
berada di madinah, dan menjalin hubungan dengan para munafikun untuk
menekan kedudukan Rasullullah dan orang-orang muslim di Madinah.
Dalam
kondisi yang rawan seperti itu, Allah menurunkan ayat yang membolehkan
orang-orang musim untuk berperang (surat al-Hajj 39), yang dalam hal ini
diartikan menguasai jalur perdagangan Quraisy dari Mekah menuju Syam.
Hal inilah yang melatari terjadinya perang badar.
Setelah
mendapat informasi yang cukup mengenai keadaan kafilah dagang Quraisy
tersebut, Rasullah segera menghimpun pasukan untuk melakukan pencegatan.
Pasukan yang berkumpul sekitar 300 orang, dan dipimpin oleh Rasulullah
sendiri. Pasukanpun bergerak menuju badar.
Abu
sufyan yang tahu jalan menuju makkah sangat rawan, terus mencari-cari
informasi, hingga ia pun akhirnya mengetahui bahwa Rasulullah beserta
sahabatnya telah pergi untuk mencegat kalifah dagangnya. Seketika itu,
Abu sufyan langsung mengirim orang ke Makkah untuk memberitahukan
keadaan sekaligus meminta perlindungan dan bala bantuan. Makkah pun
bersiap-siap menyambut peperangan, dan terkumpulah 1300 pasukan dengan
komando tertinggi berada di tangan Abu Jahal.
Pasukanpun bergerak menuju badar
Akan
tetapi, dengan pengumpulan informasi yang akurat, serta tindakan yang
cermat, abu sufyan dapat menghindari hadangan Rasulullah dan para
sahabatnya. Dan segera mengirim surat kepada pasukan Quraisy. Mendengar
kabar tersebut, pasukan Quraisy pun menjadi bimbang, diantara ingin
meneruskan peperangan atau tidak. Ditengah situasi tersebut, Abu Jahl
membakar semangat pasukannya, dengan sombong ia berkata “Demi Allah,
kita tidak akan kembali kecuali sesudah tiba di badr. Kita akan berada
di sana selama tiga hari sambil menyembelih hewan, amkan besar, menegak
arak dan para buiduanita menari untuk kita, biar semua bangsa arab
mendengar apa yang kita lakukan, dan perjalanan kita, sehingga mereka
senantiasa gentar menghadapi kita”
Berbeda
dengan keadaan Rasulullah dan pra sahabatnya, setelah mendengar
lolosnya kafilah dagang abu sufyan, beliau justru bersiap-siap berperang
dengan kekuatan penuh, karena, membiarkan posisi musuh begitu dekat
dengan madinah akan menguatkan posisi meliter mereka, menebarkan
pengaruh politiknya, serta membuat lemah barisan pasukan muslim. Beliau
langsung memimpin majelis permusyawaratan perang, melakukan kegiatan
mata-mata dan meningkatkan moral pasukan muslim.
Peperangan
dimulai dengan adu tanding antara tiga orang sahabat berhadapan dengan,
tiga orang pembesar Quraisy, ketiganya dapat dikalahkan.
Lalu
terjadilah perang besar pertama dalam sejarah islam, diperang ini
banyak sekali terdapat pesona-pesona iman, ibrah yang dapat diambil dari
keteguhan rasulullah dan para sahabatnya. Singkat cerita menanglah
pasukan muslim dalam peperangan ini, dan membuat kalimat Allah tinggi
sedangkan kalimat orang-orang kafir itu rendah…
0 comments:
Posting Komentar