Bagi kaum musyrik Quraisy, kemenangan kaum muslimin pada
perang Badar itu malah membuat hati mereka terbakar kemarahan. Tak ayal lagi,
Abu Sufyan mulai mengitung hari untuk melancarkan pembalasan dendam. Bahkan ia
melarang perempuan-perempuan Quraisy menangisi korban perang Badar, supaya api
dendam tetap membara di dalam jiwa-jiwa mereka.
Sementara di Madinah, kemenangan gemilang kaum muslimin
meresahkan kaum Yahudi. Segera mereka mendekati orang-orang Quraisy dan
menghasut mereka untuk menuntut dendam atas kaum muslimin.
Hasilnya, kaum Quraisy mengadakan pertemuan di Darun Nadwah,
dan sepakat dendam mereka untuk menyerang Madinah. Di sana mereka pun
menghitung biaya yang akan dikeluarkan pada pertempuran mendatang itu. Biayanya
ditaksir mencapai 50.000 Dinar. Sejak itu, mereka mulai mempersiapkan
persenjataan dan meminta bantuan dari kabilah-kabilah yang bermukim di sekitar
Makkah.
3000 pasukan Quraisy bersenjata lengkap bertolak ke Madinah
melalui padang sahara. Abu Sufyan menjadi panglima perang dan Khalid bin Walid
memimpin pasukan. Abbas bin Abdul Muthalib yang merahasiakan keislamannya
mengirimkan kurir untuk menyampaikan pesan ihwal rencana penyerangan itu.
Setelah menerima pesan dari pamannya, Rasulullah saw segera
mengadakan musyawarah yang menyepakati untuk menyambut lawan di luar kota.
7 Syawal tahun ke-3 Hijriah, tepatnya pada hari Sabtu pagi,
pasukan kaum muslimin bergerak meninggalkan Madinah menuju gunung Uhud. Atas perintah
Rasulullah saw, mereka mendirikan tenda-tenda tidak jauh dari barisan musuh.
Rasulullah saw menempatkan Abdullah bin Jabir bersama 50
orang lainnya yang dilengkapi busur dan anak panah untuk berada di atas bukit.
Beliau memperingatkan mereka untuk tidak beranjak dari puncak bukit itu
betapapun resiko yang akan menghadang, apakah menang atau kalah dalam
peperangan. Setelah itu, pasukan yang membawa bendera Tauhid dan pasukan yang
mengusung bendera Syirik berhadapan satu sama lainnya. Pertempuran itu dimulai
oleh Abu Umair dari Quraisy.
Pada awal-awal pertempuran, tentara Islam bertarung dengan
gagah berani dan membuat tentara kafir hampir kalah. Namun kemudian, keadaan
justru berbalik. Pasukan panah yang mengawasi medan perang itu melihat
saudara-saudaranya memukul mundur pasukan musuh. Mereka pun turun meninggalkan
bukit untuk memungut ghanimah (harta rampasan perang). Mereka
lalai terhadap perintah Rasulullah saw untuk tidak beranjak dari posisi mereka.
Khalid bin Walid memanfaatkan kelengahan kaum muslimin. Ia
dan pasukannya berbalik mengitari gunung kemudian menyerang kaum muslimin yang
sedang sibuk mengumpulkan ghanimah itu dari arah belakang. Banyak pasukan
Islam tewas karena ketidaktaatan mereka kepada Rasulullah saw. Ada sekitar 70
pejuang kaum muslimin syahid dan selebihnya ada yang melarikan diri dari medan
pertempuran.
Perang berakhir dengan kemenangan berada di pihak musuh.
Rasulullah saw dapat diselamatkan berkat kesetiaan Ali bin Abi Thalib serta
bantuan pasukan muslimin lainnya. Ali beserta pasukan Islam lainnya berhasil
mengejar dan membunuh beberapa tentara musuh.
Dengan kegigihan mereka, kota Madinah selamat dari
penyerbuan kaum kafir itu.Dalam perang ini Hamzah Bin Abdul Muthalib gugur sebagai syuhada. Namun demikian, perang Uhud ini telah memberikan
pelajaran ketaatan dan kesetiaan yang tak terlupakan oleh kaum muslimin.
0 comments:
Posting Komentar